Virus Covid19 sebagai Obat bagi Bumi, Benarkah?

Sejujurnya, aku sendiri bingung ingin menuliskan artikel ini mulai dari mana. Ketika artikel ini ditulis, aku sudah mengurung diri di rumah bersama dengan keluarga sejak tanggal 8 Maret 2020, yang artinya sudah 2 minggu kami tidak keluar rumah. Ya, kami harus mengakui bahwa kami termasuk orang-orang yang beruntung bisa #DiRumahAja. Hal ini kami lakukan untuk mencegah penyebaran virus COVID19 yang sedang marak kita perbincangkan di media belakangan ini.

Selama dua minggu ke belakang, aku rutin mencerna berita tentang virus COVID19 baik di Indonesia, maupun internasional. Mulai dari berita negatif tentang angka kematian paling terbaru, hingga beberapa berita positif, yang jujur memang lebih sulit ditemukan. Diantara banyak berita yang aku baca, ada beberapa artikel yang sangat mengganggu, dan yang mengagetkan, ini bukan tentang kasus kematian virus COVID19.

Berita ini tentang sekelompok orang yang berpikir bahwa keberdaan virus COVID19 adalah sebuah ‘berkah’ bagi bumi. Jujur. banyak sekali teman-teman yang aku temukan di Instagram sedang ‘mensyukuri’ keberadaan virus COVID19, misalnya karena udara yang lebih bersih, dan air laut yang lebih bersih. Beberapa juga percaya bahwa COVID19 mengurangi tumpukan sampah dan jumlah emisi karbon yang tercipta.

Benarkah COVID19 menjadi Penyelamat Manusia dari Permasalahan Krisis Iklim?

Aku sangat tidak setuju dengan pendapat tersebut.

Udara yang semakin bersih, tapi….

Saat virus COVID19 menyerang sebuah negara, masyarakat di negara tersebut terpaksa dan ‘dipaksa’ untuk berdiam diri di rumah. Beberapa negara bahkan melakukan lock down. Hal ini tentu saja membuat aktivitas diluar rumah menjadi jauh berkurang dan jalanan yang biasanya macet menjadi kosong.

Tentu dengan bekerja dan beraktivitas dari rumah, bisa menekan angka polusi udara, terutama di kota-kota besar. Tapi, perlu kita ingat juga, ada banyak sekali kelompok orang yang tidak bisa bekerja di rumah, atau pemasukan sangat bergantung pada penjualan harian. Misalnya, tukang ojek, tukang becak, tukang jualan keliling, supir angkot dan kelompok kerja lainnya. Mereka ini adalah kelompok masyarakat yang sangat terpukul saat kita bisa bermalas-malasan di rumah. Berbeda dengan kita, pegawai kantoran, Kelompok pekerja ini, bekerja 0 rupiah/jam, artinya tidak berdasarkan jam kerja, tapi murni dari jumlah penjualan per hari.

Imbas COVID19 ke pedagang (Source: Youtube Channel TVONENews)

Pernah kah kita berpikir dengan turunnya angka polusi udara karena pembatasan akitivitas diluar rumah memberikan DAMPAK NEGATIF secara ekonomi ke sebagian besar masyarakat Indonesia yang ada di dekat garis kemiskinan? Hal ini diperparah dengan harga-harga yang semakin meroket karena nilai tukar rupiah yang semakin anjlok.

Apakah bersihnya udara yang kita Hirup, berarti mengorbankan perut dan juga kehidupan kelompok masyarakat lain.

Lingkungan yang semakin bersih tapi….

Yes true, sebagian belahan bumi mengalami “recovery” atau pemulihan. Misalnya Venezia, Italia. Diberitakan bahwa kanal-kanal di venezia kembali menjadi jernih karena aktivitas turis yang terhenti selama virus COVID19 menyerang negara tersebut.

Air kanal Venesia terlihat lebih jernih di tengah krisis corona COVID-19 dan Italia lockdown. (ANDREA PATTARO / AFP) source: Liputan6.com

A piece of slightly happy news, but at what cost?

Saat berita ini ditulis, Negara Itali tengah menghadapi krisis ditengah serangan virus COVID19. Jumlah orang yang terinfeksi virus COVID19 telah mencapai 74.000 kasus, dengan total jumlah kematian sebanyak 7.500 orang atau hampir 700 orang setiap hari.

Apakah jernihnya kanal Venezia patut disyukuri seiring dengan jumlah kematian yang mencapai 700 orang per hari?

Emisi karbon yang menurun, tapi…

NASA menyatakan bahwa emisi karbon di China mengalami penurunan sebanyak 25% sejak bulan Februari, yaitu saat virus COVID19 mulai menyerang negara China. Hal ini disebabkan oleh berhentinya aktivitas industri, perekonomian dan aviasi di China selama virus COVID menyerang.

Penurunan Polusi Udara di Cina. Source: NASA

Saat berita ini ditulis, jumlah orang terinfeksi virus COVID19 mencapai 81.000 dengan total jumlah kematian sebesar 3.200 jiwa.

dan percayalah, hal ini sangat tidak perlu kita rayakan, karena hal ini akan terjadi sangat sementara. Ilmuwan menyatakan bahwa kadar gas emisi nitrogen diokside telah meningkat di China sebagai akibat dari pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Hal ini menunjukkan aktivitas industri yang sudah mulai berjalan sebesar 60-70%.

COVID19 telah memaksa para pelaku industri dan pemerintah melakukan ‘rehat’ dalam kegiatan ekonomi dan hal ini akan disusul dengan rencana ‘memutar balik’ atau ‘mengejar ketertinggalan aktivitas eknomi’ setelah wabah virus COVID19 berakhir. Sering kali, rencana ini dilakukan tanpa memperhatikan aspek-aspek lingkungan (karena toh memang kejarannya hanya ekonomi saja). Prof. Glen Peters dari Center For Intenational Climate Research menyakan bahwa banyak negara akan kembali melakukan aktivitas ekonomi berdasar pada minyak bumi dan batu bara, bukan pada energi bersih.

Hal ini juga terjadi saat krisi ekonomi di tahun 2008-2009 di Amerika Serikat dimana emisi karbon meningkat sejauh 5% setelah krisis berakhir (dari emisi karbon terakhir sebelum krisis). Hal ini dilakukan semata-mata untuk menstimulus ekonomi agar bergerak lagi.

Jadi, apakah kita masih perlu mensyukuri DAMPAK POSITIF sementara dari COVID19 diatas penderitaan dan kematian banyak orang?

Tumpukan sampah berkurang, ah… masa sih?

Semakin kita dipaksa hanya #DiRumahAja, semakin tinggi aktivitas online kita. Banyak toko online terpaksa menutup sementara toko online mereka karena kebanjiran dan kualahan menerima pesanan yang membeludak. Beberapa memberlakukan 1 kali order setiap minggu untuk 1 orang pelanggan, beberapa lain, termasuk Sustaination, memberlakukan sistem pre-order.

Kenyataan yang berlangsung (at least) di lingkungan tempat saya tinggal adalah kebanyakan orang memesan makanan melalui aplikasi atau toko – toko yang menawarkan layanan antar ke rumah. Aku sendiri sudah mulai membeli kebutuhan makanan segar secara online dari 2 minggu yang lalu. Beberapa bisa dipesan tanpa plastik, beberapa lainnya tentu saja banyak plastik yang tidak bisa saya hindarkan.

Aku, bisa memilah sampah dan plastik di rumah. Tapi bagaimana dengan yang lain? Nyatanya, semakin banyak pesanan yang dilakukan secara online, semakin besar resiko sampah yang ditimbulkan (misalnya order makanan jadi lewat aplikasi, selalu ada sampah plastik, kertas dan bahkan sterofoam!)

Lalu, belum lagi permasalahan sampah medis!…

Kita semua berebut untuk memakai masker medis, padahal masker medis seharusnya diprioritaskan untuk tim medis yang merupakan garda depan penanganan virus COVID19. Kita, rakyat jelata, sudah rebutan pakai masker medis, beberapa malah menipu atau menimbun masker medis untuk dijual dengan harga sangat mahal, lalu kita tidak membuang masker medis kita dengan baik!

Dicuplik dari sebuah artikel greeners.co, Guru Besar Bidang Pengelolaan Udara dan Limbah, Institut Teknologi Bandung, Profesor Enri Damanhuri mengatakan “Dalam kondisi darurat saat ini, sampah masker, terutama dari mereka yang dipantau, apalagi yang positif terkena Covid-19, harusnya masuk sampah infeksius (sampah medis) dan diperlakukan khusus, dikumpulkan secara tertib dan dimusnahkan melalui insinerasi”

Hal ini tentu menjadi pengingat bahwa wabah virus ini juga mewajibkan kita untuk menggunakan banyak sekali barang-barang sekali pakai untuk keperluan medis yang berakhir pada pembuangan. Di China sendiri, menghasilkan gunungan sampah medis setelah wabah virus COVID19. Lebih dari 20 kota di Cina kualahan mengolah sampah medis, misalnya seperti kota Wuhan. Kota Wuhan biasa menghasilkan sampah medis sebesar 50 ton per hari, saat wabah virus COVID19 menyerang, kota ini menghasilkan sampah medis sebanyak 4 kali lipat atau mencapai 200 ton per hari!

Tumpukan sampah medis di Cina. Source: sixthtone.com

Lalu apa artinya semua ini?

Sejujurnya, tidak ada yang patut dan perlu dirayakan dengan kehadiran virus COVID19 di bumi ini. Tidak perlu ada yang bertepuk tangan karena udara dan lingkungan yang sementara bersih, kanal yang sementara jernih, dan juga emisi karbon yang sementara menurun diatas kematian rausan ribu jiwa di dunia.

Bukan ini yang aku, dan kita mau.

Kesadaran akan permasalahan krisis iklim dan segala aktivitas yang berkaitan dengan penurunan emisi global harus berlandaskan pada kesejahteraan dan kehidupan manusia. Udara dan lingkungan yang bersih, air laut yang jernis juga penurunan emisi karbon harus dilakukan secara sadar dengan dukungan peraturan atau policy dunia (dan lokal), bukan dengan kematian ratusan ribu manusia.

Bukankah, tujuan dari menyelamatkan bumi dari krisis iklim adalah menyelamatkan ras manusia dari kepunahan? Lantas, jika penurunan emisi global harus diraih dengan kematian ratusan ribu jiwa akibat pandemi virus, apa artinya usaha kita memerangi krisis iklim selama ini?

Tidak kah ini terkesan egois dan ignoran (karena mungkin beruntung belum kehilangan orang tersayang) menyebutkan bahwa Virus COVID19 adalah obat bagi bumi dan merayakan ‘keberhasilan’ penurunan emisi global diatas kematian ratusan jiwa di dunia?

5 thoughts on “Virus Covid19 sebagai Obat bagi Bumi, Benarkah?

  1. Yun Mariati says:

    Saking parno kadang tuh kardus paket langsung dibuang, padahal biasanya dipakai lagi atau dikompos. Mungkin dijemur dulu ya? Plastik packaging bisa dicuci pakai sabun untuk reuse. Tp karena kebanyakan paket, merasa repot kalau harus nyuci semuanya ūüė•

  2. Dodi says:

    Jujur saya adalah salah satu orang yang bersyukur dengan alam/lingkungan mendapat sebentar kesempatan untuk memulihkan diri, karena hopeless gak ada cara yang signifikan untuk menghentikan pemanasan global, dan virus ini munculpun bukan karena fenomena alam dan natural begitu saja terjadi, tapi dampak dari aktifitas kita sendiri. saya pun merasakan kesedihan yang sama dan tidak ingin orang tersayang menjadi salah satu yang terjangkit. saya gak bisa berbohong merasakan kebahagian untuk keuntungan yang didapat oleh alam, tapi ini sudah terjadi.
    Semoga kita semua bisa belajar, bahwa manusia terikat dengan alam keseimbangan yang ribuan tahun terputus di era industrialisasi , gak peduli seberapa canggihnya teknologi dan seberapa hebatnya perekonomian.
    Sudut pandang mba sangat bijak, tapi saya menyampaikan kejujuran.

  3. Sahara says:

    Ada benarnya artikel ini. Kita memang sudah terlalu jahat pada bumi, bukankah virus ini pun datang sebab ulah kita manusia.
    Semoga kita tetap bisa bersyukur dan bersabar di setiap keadaan dan terus berusaha memperbaiki diri lebih mencintai bumi.
    Semoga Allah mengampuni kita dan orang-orang yang telah menjadi korban atas musibah ini.

  4. Darius says:

    Harusnya kita mulai sadar untuk merecovery bumi tanpa hrs menunggu dikendalikan bencana. Sifat kapitalistislah yg membuat bumi pesimis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *