Tips: Mengurangi Emisi Karbon dari Makanan

Di balik lezatnya sepiring makanan kita, tentunya ada proses penanaman – produksi – pengolahan – distribusi – konsumsi dan pada akhirnya berujung pada pengolahan sisa organik. Keseluruhan rantai proses dari mulai produksi hingga makanan sampai ke piring kita dan pengolahan limbah organik ini memiliki dampak terhadap lingkungan.

https://sustaination.id/nasib-bumi-ditentukan-dari-sepiring-makanan/

Lalu, bagaimana cara kita untuk menentukan makanan kita supaya tetap rendah emisi karbon dan ramah lingkungan

1. Conscious Eating

Apa itu conscious eating? Menurutku, conscious eating adalah ketika kita mencoba menikmati makanan kita tanpa ada gangguan. Dengan begini, kita mencoba membangkitkan kembali hubungan personal kita dengan makanan yang kita makan, dengan apa yang kita konsumsi. Mencoba conscious eating berarti kita melatih diri kita untuk berpikir ulang dan menjadi sadar darimana bahan makanan kita berasal dan sadar bahwa setiap apa yang kita konsumsi dan makan memberikan dampak terhadap lingkungan.

Dengan melatih hubungan kita dengan makanan yang kita makan, kita menjadi terlatih untuk berbelanja seperlunya, makan secukupnya, sehingga tidak menghasilkan sisa makanan dan membuang-buang makanan.

Photo by Henrique Félix on Unsplash

2. Belanja Produk Lokal dan Sesuai Musim

Coba lihat kembali kebiasaan dan daftar belanjamu selama ini.

  • Dimana kamu biasa berbelanja? Apakah Kamu sudah mencoba berbelanja ke pasar tradisional lokal di sekitar tempatmu?
  • Apakah kamu sangat perlu berkendara saat berbelanja? Mengapa tidak mencoba naik sepeda atau berjalan kaki ke pasar terdekat? lebih praktis dan sehat!
  • Barang apa sajakah yang Kamu beli? Apakah buah/sayur yang kita beli diproduksi di Indonesia? atau harus didatangkan dari negara di seberang samudera? Mengapa tidak mencoba hasil perkebunan Apel Malang daripada Apel hasil perkebunan di New Zealand?
  • Apakah buah dan sayur yang kita beli sedang musim? biasanya, saat musim buah tertentu, harga buah musiman lebih murah lho! jelas lebih hemat! Dan dengan berbelanja sesuai musim, kita berperan serta mencegah terbuangnya produksi buah berlebihan karena rusak, busuk, dan tidak laku.

Berbelanja produk lokal di pasar-pasar tradisional lokal berarti juga membantu menumbuhkan perekonomian lokal lho! Pihak yang diuntungkan jelas lebih banyak, mulai dari petani hingga pedagang perseorangan di pasar yang hasil penjualannya bisa jadi digunakan simply untuk membiayai anaknya sekolah atau pulang kampung untuk ketemu orang tua.

Photo by Deviyahya on Unsplash

3. Grow / Regrow your own Food

Salah satu cara untuk menghemat uang dan mendapatkan bahan-bahan makanan dengan lebih ramah lingkungan adalah dengan menumbuhkan kembali atau menanam bahan-bahan makanan yang kita butuhkan di rumah! Dengan menanam bahan-bahan makan di rumah kita bisa pastikan bahan makanan tersebut murah, sehat, bebas pestisida, dan tentunya sangat dekat dengan kita!

Ada kebun dan lahan agak sedikit luas? mengapa tidak mencoba untuk memulai kebun komunitas yang ditanam dan dirawat bersama dengan tetangga satu komplek/RT/RW?

Photo by Elaine Casap on Unsplash

4.Kurangi Konsumsi Daging

Environmental Working Group (EWG) melakukan penelitian jumlah emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh setiap 1 kg bahan makanan yang kita konsumsi. Hasil emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan jumlah gas emisi karbon yang dihasilkan saat mengendarai kendaraan pribadi, seperti mobil, yang dituangkan dalam satuan kilometer (km). Hasilnya? bahan makanan penghasil emisi karbon terbesar adalah daging domba dan daging sapi!

Jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari 1 kg jenis makanan setara dengan perjalanan dengan menggunakan mobil. Source: ewg.org

5. No Proccesed & Packaged Food

Katakan tidak pada makanan berkemasan dan makanan yang sudah di proses. Kenapa? Makanan berkemasan dan yang sudah diproses memiliki jejak karbon lebih tinggi daripada makanan segar. Hal ini disebabkan makanan yang sudah dikemas dan diproses telah melalui serangkaian proses yang panjang seperti pemotongan, pengeringan, pengasinan, pengawetan, pendinginan, pengemasan, dan juga penambahan bahan-bahan kimia lain seperti pemanis buatan, pewarna buatan dan pengawet buatan.

Baca juga mengapa kemasan menyumbang jejak karbon yang cukup besar.

Dengan menghindari makanan berkemasan dan makanan yang sudah diproses, kita jadi mencoba mengonsumsi makanan segar lebih banyak yang tentu saja jauhhhh lebih sehat, bukan?

6. NO FOOD WASTE

Katakan tidak pada food waste! Kenapa?

Data dari FAO menunjukkan bahwa setiap tahun ada 1.6 milyar ton makanan yang diproduksi terbuang dan 1.3 Milyar ton dari jumlah ini merupakan makanan layak makan. Padahal, hanya butuh 1/4 dari bagian terbuang ini untuk memberi makanan ke 870 juta penduduk dunia dan mengakhiri krisis kelaparan dunia. Jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari food waste ini diperkirakan mencapai 3.3 milyar ton CO2 setiap tahun. Jika kita mengibaratkan food waste ini sebagai sebuah negara, negara food waste ini merupakan negara ketiga penyumbang emisi karbon terbanyak penyebab efek rumah kaca dan perubahan iklim di bumi.

7. Mengompos

Penelitian menyatakan bahwa penguraian sisa organik secara anaerob (tanpa oksigen) akan menghasilkan campuran gas metana (CH4) sebanyak 55-75 vol% dan gas karbon dioksida (CO2) sebesar 25-45 vol%. Riset lain dari Princenton University menyatakan bahwa gas metana memiliki pengaruh dan kontribusi sebesar 30 kali lebih tinggi daripada gas karbon dioksida terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global. Dengan mengompos sisa organi di rumah, kita beperan serta mencegah terciptakanya gas metana dari penguraian senyawa organik tanpa oksigen di TPA!

Belajar cara mengompos disini.


Kalau kamu gimana? Adakah tips lain bagaimana cara memilih makanan atau diet rendah karbon dan ramah lingkungan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *