Greenwash: Botol Minum dari 100% Daur Ulang Plastik

Beberapa minggu yang lalu, jagad media, terutama Instagram dan Twitter sedang diramaikan dengan sebuah invoasi yang ‘terkesan’ revolusioner dari salah satu merek Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), dimana AMDK ini membuat botol kemasan tanpa label dengan klaim terbuat dari 100% hasil daur ulang botol plastik.

Tidak tanggung-tanggung lho, mereka rela merogoh kocek lumayan dalam untuk bekerja sama dengan what they so called : influencers, yang kebanyakan ternyata adalah travel blogger. Such a genius and brilliant move from a company where they hire people to talk about something that they do not even care.

Beberapa orang terlihat senang dengan inisiatif ini, tapi aku……engga. sorry not to sorry.  Buat saya, inisiatif ini adalah sebuah langkah perusahaan dimana mereka ingin terlihat lebih ‘green‘ dan secara bersamaan mengambil keuntungan dari green and zero waste movement yang sedang tumbuh dengan pesat di Indonesia, thus, greenwashing it is.  Here are the reasons:

1. Perusahaan AMDK melakukan eksploitasi mata air milik penduduk lokal

Sudah bukan berita baru bahwa perusahaan AMDK telah banyak melakukan ekploitasi mata air yang dimiliki oleh penduduk lokal di berbagai daerah di Indonesia. 

Saah satu merek AMDK ini memiliki 14 pabrik dan memonopoli puluhan mata air. Dari tahun 2001 hingga 2008, perusahaan ini telah menyedot lebih dari 30 miliar liter dan menguasai 80% penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia (1)

Di Sukabumi, warga melaporkan sejak berdirinya Pabrik AMDK di desa tempat tinggallnya, air sumur menjadi kering sehingga warga terpaksa harus berjalan lebih jauh untuk mengambil air bersih.  Sebanyak 48 persen atau hampir separuh pengambilan air tanah di Kabupaten Sukabumi dilakukan oleh tiga perusahaan penghasil produk terkemuka di dunia, yaitu Aqua, Pocari Sweat, dan Indomilk. Sebanyak 24 persen warga tinggal di sekitar perusahaan air kemasan tergolong miskin dan kesulitan air bersih (2)

Beberapa daerah juga melakukan penolakan terhadap pengeboran mata air lokal oleh perusahaan AMDK, seperti di Karangasem, Bali (3), dan juga Serang, Banten (4)

2. Take all and give nothing. It’s all about money

Beberapa daerah hanya menikmati sedikit saja penerimaan daerah dari hasil eksploitasi yang dilakukan oleh perusahaan AMDK. Jawa Tengah hanya mendapat Rp1,2 miliar dalam satu tahun. Pendapatan ini berbanding terbalik dengan perolehan profit perusahaan ini yang mencapai Rp80 miliar per bulan atau Rp960 miliar setahun.

Lebih lagi perusahaan AMDK ini dinilai telah melanggar konsesi. Berdasarkan izin dari pemerintah Kabupaten Klaten, perusahaan ini hanya diizinkan menyedot 20 juta liter per bulan. Kenyataannya eksploitasi air oleh perusahaan ini mencapai angka 40 juta liter per bulan. (5)

2. 100% botol daur ulang tidak sama dengan 100% Botol plastik terdaur ulang

Botol minum plastik terbaru yang dikeluarkan memang mungkin terbuat dari 100% plastik daur ulang. Tapi, ini bukan berarti mereka telah berhasil mendaur ulang botol minum plastik AMDK yang mereka hasilkan secara 100%. 

Indonesia menjadi negara ke-4 pengguna botol plastik terbanyak di dunia. Tercatat penggunaan botol plastik di negara kita mencapai 4,82 miliar. Menurut lembaga internasional Euromonitor, hampir setengah dari penjualan botol minuman tahun lalu, disumbang oleh Danone Aqua berarti sekitar 2,41 miliar botol setiap tahun (6)

Berapa Recycling rate AMDK di Indonesia? no one knows. Jika seandainya pun Recycling rate AMDK tinggi dan mencapai 50%, 50% lainnya masih berpotensi sangat tinggi untuk mencemari lingkungan.

3. Recycling Business Unit (RBU) belum tersedia di semua kota

“Lho, kan ada Recyling Business Unit!” 

well, let me tell you one bitter truth: RBU ini hanya ada 6 buah dan hanya ada di 4 di kota, yaitu Tangerang Selatan, Bandung, Bali dan Lombok (7). Bagaimana untuk teman-teman yang tinggal di luar kota itu? atau yang diluar pulau?

Tentu pengolahan plastik biasanya berpusat di Jawa, atau Bali. Bagaimana dengan potensi sampah botol plastik yang ditimbulkan di Pulau Sumatera, Kalimantan  dan Sulawesi? Tentu bisa saja dikirim kembali ke Jawa, dengan catatan menghasilkan laba bagi pengepul. Tapi, pernahkan kalian berpikir ini sangat sangat sangat boros energi dan menghasilkan emisi karbon yang sangat besar hanya untuk mengirim sampah?

4. Dropbox belum ada di banyak titik

Katanya… punya dropbox. 

Saya menemukan berita di Tahun 2017 (yes, 2 tahun yang lalu). Terdapat 3 buah dropbox di Bali, tepatnya di  Circle K Kuta Kama Sutra, Circle K Buluh Indah  dan Circle K Teuku Umar (8)

Di Tahun 2018, inisiatif smart drop box juga diluncurkan bersama Alfamart dan Smash. Target mereka adalah untuk meletakkan 80 Smart Drop Box ini di Alfamart wilayah Jakarta dan Tangerang sepanjang tahun 2018 (9). Kok… saya ga pernah lihat? 

5. Meningkatkan emisi transportasi 

Dengan sangat sedikitinya mitra RBU dan dropbox yang tersedia, hal ini mengesankan bahwa inisiatif ini hanya “sekedar ada”. 
Dengan usaha mereka yang bisa membayar travel blogger dan artis terkenal untuk mempromosikan botol daur ulangnya, pada akhirnya, sampah kemasan plastik masih menjadi tanggung jawab konsumen.


5. Meningkatkan emisi transportasi 
Dengan sangat sedikitinya mitra RBU dan dropbox yang tersedia, hal ini mengesankan bahwa inisiatif ini hanya “sekedar ada”. 
Dengan usaha mereka yang bisa membayar travel blogger dan artis terkenal untuk mempromosikan botol daur ulangnya, pada akhirnya, sampah kemasan plastik masih menjadi tanggung jawab konsumen.

Kemana harus dibuang? kemana harus di daur ulang? Bagaimana dengan yang ada di luar Jawa? atau di kota-kota yang masih belum ada RBU dan dropbox? Mengapa konsumen harus yang susah payah mencari RBU dan dropbox kalian? Kalau bisa bayar artis dan influencer, kenapa ngga bisa meletakkan dropbox di seluruh alfamart di Indonesia?

Kebayang kalau harus mengirimkan sampah botol plastik dari luar pulau atau kota hanya untuk diolah kembali di Pulau Jawa, berapa jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari proses transportasi sampah ini?

Makin terlihat bahwasannya inisiatif ini memang hanyalah sebuah gimmick.

6. Much about Recycling none about REFILLING

Saya dan keluarga saya setia mengkonsumsi air kemasan galon sejak saya masih di Sekolah Dasar. Ya, karena Pemerintah Indonesia lalai dengan kewajibannya memebrikan akses air bersih dan layak minum sehingga saya dan keluarga terpaksa membeli galon.

Tapi, sadarkah kamu kalau ukuran galon ini tidak pernah ada di iklan? mungkin karena memang tidak praktis sehingga tidak menghasilkan profit bagi perusahaan.

Perusahaan AMDK mungkin sudah sangat lihai mempromosikan daur ulang botol plastik. Gagal menggandeng para penggiat lingkungan untuk mempromosikan botol daur ulang, pindah haluan ke travel blogger. Cerdas bukan? Membayar orang yang, kesehariannya mungkin tidak peduli dengan alam dan lingkungan untuk berbicara tentang daur ulang botol plastik. Membayar orang untuk berbicara tidak pada kapasitasnya, atau bahkan untuk membela kalian, oh so easy, karena mereka tidak akan mencecarmu dengan pertanyaan berantai tentang isu eksploitasi dan recycling ratemu.

Enough is enough, kapan kalian bisa mulai berbicara tentang refill dengangalonmu?

7. Botol dengan label dan virgin plastic masih diproduksi

Perlu kita ingat bahwa botol 100% daur ulang ini hanya akan tersedia untuk kemasan 1.1 liter. Lalu bagaimana dengan kemasan lain? Kemasan lain, ya, termasuk gelas masih tetap akan menggunakan virgin plastics  dengan label yang tentunya tidak akan bisa di daur ulang.

8. Hanya tersedia terbatas dan sangat eksklusif

AMDK dengan kemasan botol 100% daur ulang ini hanya akan tersedia di restauran, kafe, hotel, dan supermarket terpilih di Bali. Yup, I can feel the exclusivity there. Point saya adalah, mengapa Perusahaan AMDK dengan susah payah menggembar-gemborkan inisiatif ini di media, sedangkan botolnya saja hanya akan tersedia di Bali (yang mungkin akan tersedia di daerah dan kota lain – yang entah kapan), ingat dropbox diatas? mungkin bisa jadi kita tidak akan pernah lihat. 

Mengapa menghabiskan uang marketing hanya untuk inisiatif yang sangat eksklusif terbatas untuk beberapa kalangan orang saja?

Mengapa tidak mengalihkan marketing spending ini ke hal yang lebih memiliki added value, misalnya riset tentang bisnis refill station? bukankah ini juga merupakan untapped business potential untuk perusahaan AMDK?

Atau memang sudah jelas bahwa inisiatif ini adalah gimmick supaya bisa dilihat dan ikut-ikutan dalam gerakan green and zero waste yang sedang booming di Indonesia? 

Daur Ulang Bukan Jawaban

Pembuatan 1 liter botol plastik itu sendiri memerlukan 7 liter air. dan 1 liter minyak.  Bahkan ada riset yang menunjukkan bahwa di Amerika untuk memproduksi botol PET sesuai dengan kebutuhan di Amerika memerlukan energi setara dengan 17 barrel minyak, 1 barrel setara dengan hampir 160 liter.

Recycling is a very energy intensive process. Artinya, dalam proses daur ulang, kita juga harus memperhatikan trasportasi sampah plastik dari pengepul hingga ke tempat pemorsesan. Selain itu, plastik yang akan di daur ulang juga perlu di cacah dan diolah kembali sehingga bisa dijadikan barang lain, misalnya botol plastik dengan kualitas yang lebih rendah, kain poliester, dsb. Proses in tentunya juga memakan energi yang cukup besar.

Apa yang bisa kita lakukan selain mendukung botol 100% daur ulang ini? 

1. #BringYourOwnTumblr, dan ajak teman-teman, saudara untuk melakukan hal yang sama

2. Dorong terus perusahaan air minum dalam kemasan untuk beralih menyediakan sistem air minum isi ulang berbayar di tempat-tempat umum dan strategis

3. Gunakan aplikasi refillmybottle untuk mengetahui tempat-tempat yang menyediakan air minum isi ulang, baik yang gratis maupun berbayar

4. Dorong pemerintah untuk ikut serta memfasilitasi tempat air minum isi ulang, seperti yang telah dilakukan oleh PDAM Pemerintah kota Malang dengan ZAMPnya (Zona Air Minum Prima),  supaya kita tidak perlu lagi bergantung dnegan AMDK


Jadi, Aqua, Saya percaya, kamu sebagai perusahaan, punya kemampuan lebih daripada hanya sekedar gembar-gembor di daur ulang botol yang ternyata cuma dijual secara eksklusif. Persoalannya, mau atau tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *