Nasib Bumi Ditentukan dari Piringmu

Pernahkah Kamu berpikir bagaimana makananmu bisa sampai di piringmu hari ini?

Ritme hidup yang cepat sering kali membuat kita lupa darimana sumber makanan kita berasal. Dibalik nasi yang kita makan malam ini, ada kerja keras petani yang berjuang melawan penggusuran sawah, dibalik renyahnya ayam goreng krispi, ada hutan lindung yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, belum lagi bawang putih yang ternyata masih impor dari negara tetangga dan masih banyak permasalahan yang lain.

Di balik lezatnya sepiring makanan kita, tentunya ada proses penanaman – produksi – pengolahan – distribusi – konsumsi dan pada akhirnya berujung pada pengolahan sisa organik. Keseluruhan rantai proses dari mulai produksi hingga makanan sampai ke piring kita dan pengolahan limbah organik ini memiliki dampak terhadap lingkungan. Dampak yang ditimbulkan dari keseluruhan sistem rantai makanan ini dapat mempengaruhi pemanasan global dan keadaan bumi kita lho! Yuk, belajar bagaimana pilihan makanan dan diet kita akan menentukan nasib bumi!

Jejak Karbon Sistem Rantai Makanan

Di tahun 2008, penelitian menyebutkansistem rantai makanan diperkirakan menyumbangkan emisi gas rumah kaca yang mencapai 30% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Jumlah ini setara dengan melepaskan gas karbon dioksida sebanbyak 9,800 – 16,900 Megaton ekuivalen gas karbon dioksida (MtCO2e). Sebanyak 86% proporsi jumlah emisi gas rumah kaca ini dihasilkan oleh bidang pertanian dan peternakan saja, termasuk didalamnya adalah emisi tidak langsung yang dihasilkan oleh perubahan fungsi lahan, misalnya dari lahan hutan menjadi lahan pertanian atau peternakan.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh bidang pertanian dan peternakan termasuk didalamnya adalah penggunaan pupuk, pestisida, perubahan fungsi lahan, dan pengolahan kotoran hewan (manure). Food Climate Research Network (FCRN) menyatakan bahwa proses produksi yang terjadi di lahan pertanian, perkebunan dan peternakan ini menyumbangkan emisi gas rumah kaca yang mencapai 25% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Proses selanjutnya seperti pengolahan, pengemasan, transportasi, distribusi, pemasaran, penyimpanan, konsumsi, hingga pengolahan limbah organik menyumbangkan gas emisi rumah kaca hingga 10% dari total emisi gas rumah kaca dunia.

Produksi Gas Rumah Kaca dalam Rantai Makanan. Source: Foodsource.org.uk

Produksi Karbon Jenis Makanan

86% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari keseluruhan rantai makanan berasal dari lahan pertanian, perkebunan dan peternakan. Apa saja jenis makanan yang menyumbang emisi gas rumah kaca terbesar? dan makanan apa yang sebaiknya kita pilih untuk diet yang lebih ramah lingkungan?

Prof Karli Verghese dan Dr Enda Crossin dari RMIT University, bersama dengan Stephen Clune dari Lancaster University merangkum dan mengulas 369 riset yang meneliti 1718 potensi pemanasan global yang dihasilkan oleh 168 varietas makanan segar, termasuk sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, produk peternakan, daging, ayam, dan ikan. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of Cleaner Production ini memberikan petunjuk seberapa banyak produk hasil pertanian, perkebunan dan peternakan untuk menghasilkan 1kg ekuivalen gas karbon dioksida.Misalnya untuk menghasilkan 1 kg emisi gas rumah kaca diperlukan 5,8 kg bawang atau hanya sekitar 40 daging sapi!

Jumlah Makanan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 kg gas karbon dioksida.
Source: Theconversation.com

Environmental Working Group (EWG) juga melakukan penelitian jumlah emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh setiap 1 kg bahan makanan yang kita konsumsi. Hasil emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan jumlah gas emisi karbon yang dihasilkan saat mengendarai kendaraan pribadi, seperti mobil, yang dituangkan dalam satuan kilometer (km). Misalnya, dengan memakan 1 kg daging domba, kita menghasilkan 39.2 kg ekuivalen gas karbon dioksida atau setara dengan berkendara dengan mobil sejauh 11 km!

Jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari 1 kg jenis makanan setara dengan perjalanan dengan menggunakan mobil. Source: ewg.org

Daging Penyumbang Emisi Karbon Terbesar!

Dari penelitian yang dilakukan oleh Stephen Clune dan EWG, kita bisa melihat bahwa bahan makanan yang menghasilkan emisi karbon terbesar adalah daging (sapi dan domba), yang kemudian diikuti oleh ayam. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Analisa yang dilakukan oleh EWG menyatakan bahwa 90% emisi karbon dari daging sapi dihasilkan saat proses produksi, dari mulai penyediaan pakan ternak, proses pencernaah hean tergank (digestion) dan juga kotoran yang dihasilkan hewan ternak.

Produksi Pakan Ternak. Kok bisa hewan ternak menghasilkan emimsi karbon lebih tinggi daripada tumbuhan? secara sederhana, hewan ternak juga membutuhkan makanan yang berupa tumbuhan yang harus diproduksi di lahan pertanian dan perkebunan. Proses produksi pakan ternak ini memerlukan pupuk, pestisida, lahan , dan juga air. Kebanyakan pupuk yang dipakai adalah pupuk nitrogen yang memberikan efek pemanasan global 300 kali lebih tinggi daripada gas karbon dioksida.

Kotoran hewan. Kotoran hewan ternak jika tidak diolah dengan baik akan menghasilkan gas metana dan nitrogen yang berpotensi mencemari lingkunga, air tanah, dan menyebabkan pemanasan global. Environmental Protection Agency (EPA) menyatakan bahwa kotoran hewan merupakan sumber penghasil gas metana terbesar, yaitu sekitar 60% dari total produksi gas metana dunia.

Berbeda dengan daging ayam. Daging ayam menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah daripada daging sapi Hal ini disebabkan ayam memerlukan pakan ternak yang jauh lebih sedikit daripada sapi. Ditambah lagi, ayam tidak menghasilkan gas metana saat mencerna makanannya. Namun , pengolahan daging memerlukan lebih banyak energi dan air daripada proses pengolahan daging sapi. Itu sebabnya, hanya sekitar 50% emisi karbon yang dihasilkan oleh daging ayam terjadi saat proses produksi (dibandingkan dengan proses produksi daging sapi yang mencapai 90% total emisi gas keseluruhan yang dihasilkan).

Sebaliknya, emisi karbon yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan jauh lebih kecil daripada protein hewani. Hal ini disebabkan emisi terbesar yang dihasilkan oleh grup tumbuh-tumbuhan ini baru terjadi ketika utmbuhan tersebut meninggalkan lahan pertanian atau perkebunan untuk diolah, dipasarkan, di distribusi, dikonsumsi hingga akhirnya dibuang.


Yuk Kurangi Konsumsi Daging!

Melihat betapa besarnya emisi karbon yang dihasilkan oleh protein hewani, yuk mulai sekarang kita mencoba kurangi konsumsi daging. Misalnya mulai dari hanya memakan daging merah satu kali saja dalam satu minggu, mengganti daging merah menjadi daging ayam, sampai akhirnya lepas dari protein hewani sama sekali.

Baca juga selengkapnya TIPS mengurangi emisi karbon dari makanan kita.

Jadi gimana, sudah siap mengurangi konsumsi daging hari ini? kalau ada yang sudah vegan / vegetarian boleh dong share tipsnya gimana supaya bisa lepas dari protein hewani? dan yang sedang berproses mengurangi daging hewani apa saja kesulitannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *