Perawatan Gigi Minim Sampah

sikat gigi bambu

Disclaimer: tulisan ini dibuat oleh Kalya, seorang dokter gigi teregistrasi di Konsil Kedokteran Indonesia. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tahun 2014, dan saat ini berpraktik di Jakarta Selatan.

Buatku, salah satu #SustainableSwap yang paling banyak pertimbangannya sebelum dilakukan adalah mengganti peralatan oral hygiene seperti sikat gigi, floss, dan pasta gigi. Rasanya sulit sekali untuk menukar kenyamanan menggunakan sikat gigi plastik dan pasta gigi dalam tube komposit plastik-aluminium dengan alternatif lain. Setelah melakukan beberapa riset pribadi, sekaligus membenturkannya dengan keilmuan yang aku miliki, akhirnya aku bisa cerita beberapa alternatif perawatan oral hygiene yang lebih ramah lingkungan. Simak, yuk!

Kenapa sih kita harus sikat gigi?

Pembersihan jaringan keras dan lunak mulut diperlukan agar gigi tidak berlubang dan gusi tidak meradang. Memangnya kenapa sih, kalau gigi berlubang? Tentunya gigi berlubang akan bikin makanan nyelip, bau mulut, sakit, bengkak, dan jadi jalan masuk bakteri dan kuman lainnnya ke dalam tubuh. Sedangkan radang gusi membuat gusimu mudah bengkak dan berdarah, serta pada akhirnya bisa membuat gigimu copot dari tempatnya! Serem, kan? Oleh karena itu, sebaiknya kita memberi perhatian yang cukup untuk membersihkan gigi geligi dan rongga mulut supaya kedua penyakit menyebalkan itu menjauh!

Pada dasarnya, perawatan kebersihan gigi dan mulut itu prinsipnya dua: secara mekanis dan kimiawi Рharus ada dua-duanya. Plak (atau jigong… tau kan?) itu berisi koloni bakteri penyebab gigi berlubang dan radang gusi. Kabar buruknya, koloni bakteri ini beramai-ramai menempel sangat kuat di permukaan gigi, sehingga nggak bisa begitu saja lepas dengan kumur-kumur Рharus disikat. Lalu apa gunanya pasta gigi? Pasta gigi berfungsi sebagai agen kimia yang membawa bahan aktif antibakteri dan antikaries seperti fluoride atau hydroxyapatite.

Alternatif Pengganti Sikat Gigi

pic credit Hipwee

1. Siwak

Siwak banyak digunakan di daerah Timur Tengah, Asia, dan Afrika sebagai pengganti sikat gigi sebagai bagian dari budaya setempat. Siwak atau Miswak merupakan batang kayu muda yang dibersihkan, diserut halus, dan dikupas kulit kayunya dengan cara digigit – menghasilkan serabut-serabut halus yang bisa digunakan untuk membersihkan permukaan gigi. Menurut penelitian, penggunaan siwak memberikan banyak manfaat mekanis dan kimiawi – menggantikan fungsi dari menyikat gigi dengan pasta gigi, dengan manfaat yang lebih banyak. Penggunaan siwak juga direkomendasikan oleh WHO, lho.

Kayu siwak mengandung komposisi kimiawi antibakteri yang efektif terhadap bakteri penyebab gigi berlubang dan radang gusi. Silica dan sodium bikarbonat yang terkandung dalam kayu siwak bersifat antibakteri dan membersihkan permukaan gigi dengan baik, melepaskan ikatan koloni plak dari permukaan enamel. Selain itu, siwak juga mengandung resin, kalsium, dan fluoride yang melindungi gigi dari ancaman karies. Minyak esensial yang terkandung dalam kayu siwak juga baik dalam mencegah radang gusi serta memberikan aroma yang segar. Dalam kayu siwak juga terdapat vitamin C yang membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan lunak mulut

2. Sikat Gigi Bambu

Tentu sudah tidak asing lagi mendengar sikat gigi hits ini, kan? Sikat gigi bambu juga merupakan alternatif pembersih gigi dan mulut yang cukup ramah lingkungan, karena batangnya yang terbuat dari bambu dapat dikompos. Tetapi, jangan lupa untuk tetap memilih bulu sikat yang paling lembut dan menggantinya setelah 3 bulan ya, agar gusimu tidak terluka!

Setelah selesai dipakai, kamu bisa mencabut bulu-bulu nilon sikat gigi bambu dan mengompos sisanya.

Vegan
Out of stock

Health & Beauty

Sikat Gigi Bambu

Rp15,000.00

3. Benang Gigi Berbahan Natural

Lebih dari 35% permukaan gigi tidak terjangkau oleh sikat gigi saja, jadi membersihkan sela-sela gigi dengan floss tetap diperlukan. Kamu bisa mengganti benang gigimu dengan yang berbahan natural dari silk – sebuah pilihan yang sustainable dan menyenangkan!

Rp65,000.00

Alternatif Pengganti Pasta Gigi

Terdapat beberapa pertimbangan bagaimana pasta gigi dapat disebut ramah lingkungan, berkaitan dengan kemasan dan kandungannya. Pasta gigi konvensional dikemas dalam komposit plastik dan aluminium, serta dapat mengandung microbeads dari mikroplastik di dalamnya. Banyak sekali alternatif pengganti pasta gigi yang lebih ramah lingkungan, antara lain pasta yang dapat diisi ulang, tooth powder, maupun tooth tabs. Namun, tidak semua pilihan mengandung bahan aktif yang teruji klinis mencegah gigi berlubang, seperti fluoride atau hydroxyapatite. Untuk masyarakat Indonesia, penggunaan pasta gigi berfluoride masih diperlukan untuk mencegah gigi berlubang, karena belum ada sistem fluoridasi air minum untuk masyarakat. 

1. Denttabs

Vegan

Health & Beauty

Pasta Gigi Padat

Rp89,000.00Rp159,000.00

Denttabs merupakan tablet pengganti pasta gigi yang tidak mengandung SLS, baking soda, dan mengandung fluoride, serta dikemas dalam kemasan yang dapat dikompos. Menyikat gigi menggunakan Denttabs terasa seperti menggunakan pasta gigi konvensional, hanya dengan lebih banyak kebaikan. 1450 ppm fluoride juga sangat cukup untuk melindungimu dari karies gigi yang menyebalkan.

Apakah fluoride berbahaya?

Fluoride sendiri merupakan unsur mineral yang tersedia secara bebas di alam. Perannya dalam perawatan gigi dan mulut adalah memperkuat lapisan kristal email gigi terhadap serangan asam dari bakteri Streptococcus mutans penyebab karies atau lubang gigi. Manusia memang hanya memerlukan sangat sedikit fluoride untuk dapat terhindar dari karang gigi, akan tetapi kandungan fluoride dari makanan juga belum bisa memenuhi kebutuhan fluoride harian yang dibutuhkan. Di banyak negara yang air kerannya dapat diminum, air minumnya sudah dilakukan fluoridasi dengan kadar yang disepakati WHO yaitu antara 0,7-1,4 ppm – sehingga penggunaan pasta gigi berfluoride dan suplementasi fluoride profesional oleh dokter gigi dapat memicu kelebihan fluoride dalam tubuh. Namun di Indonesia, belum ada sistem fluoridasi air minum sehingga masyarakat kita masih memerlukan pasta gigi berfluoride untuk terhindar dari karies gigi. Menurut jurnal tahun 2018, efektivitas fluoride paling baik didapat secara topikal, sehingga penggunaan pasta gigi berfluoride tetap harus diutamakan.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, setidaknya setiap penduduk Indonesia memiliki 6 gigi yang berlubang – angka yang cukup besar. Data ini meningkat dibandingkan dengan data Riskesdas tahun 2015 yang angkanya berkisar antara 4-5 gigi berlubang pada setiap penduduk. 

2. Pasta gigi buatan sendiri

Di internet, banyak sekali resep untuk membuat pasta gigi di rumah. Selama dilakukan dengan steril dan menggunakan bahan-bahan yang medical grade, sebetulnya penggunaan pasta gigi buatan sendiri dapat menjadi alternatif perawatan gigi dan mulut yang minim sampah. Akan tetapi, seringkali komposisi yang terdapat di resep ini belum terbukti efektif dan aman untuk digunakan sebagai pasta gigi, contohnya baking soda dan charcoal. Journal of American Dental Association menyebutkan bahwa hanya low-abrasive baking soda yang cukup aman digunakan untuk membersihkan gigi. Dalam jurnal yang lain, JADA menyebutkan bahwa charcoal diduga memiliki efek abrasif yang cukup merusak permukaan email gigi, tetapi efektivitasnya dalam membersihkan plak masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

3. Oil Pulling

Berkumur dengan minyak nabati selama beberapa menit merupakan praktik Ayurveda yang dipercaya dapat merawat kebersihan gigi dan mulut – mengurangi jumlah bakteri dan merawat jaringan oral. Meskipun belum direkomendasikan oleh ADA, praktik oil pulling dapat menjaga keseimbangan flora di dalam rongga mulut. Namun, praktik ini tetap tidak dapat menggantikan manfaat pembersihan rongga mulut secara mekanis dengan sikat gigi.

Sekian beberapa alternatif perawatan gigi dan mulut minim sampah yang bisa aku sharing disini. Setiap pilihan tentu ada kelebihan dan kekurangannya, pilihan untuk menerapkannya kembali ke kebijaksanaan masing-masing ya ūüôā

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *