DIY, Membuat Produk Perawatan Diri sendiri, Amankah?

Di kalangan zerowaster, isu minim sampah bukanlah hal yang asing. Kalau bicara soal produk yang kita pakai sehari-hari, seperti cairan pembersih rumah atau produk skincare, pasti selalu berusaha mencari alternatif yang minim sampah kan? Apalagi produk konvensional yang berada di pasaran sebagian besar ada dalam plastik. Beragam kemasan plastik sekali pakai dari ukuran sachet sampai refill yang besar, bisa kita temukan dalam produk yang kita pakai sehari-hari, mulai dari pembersih lantai, shampoo, sabun, lotion sampai deodorant!

Maka tidak heran apabila DIY mulai ramai diperbincangkan karena diklaim menggunakan bahan ‘alami’ dan tidak menyumbang sampah, baik dalam penggunaan ataupun pengemasannya. Maksud dan tujuannya tentulah positif, supaya tidak lagi menambah beban untuk bumi yang kita sayangi ini. Namun, apakah zerowaste saja cukup? Hal yang mungkin sering terlupakan adalah berusaha memberikan hal yang positif bagi alam, bukankah secara tidak langsung juga memberikan hal yang positif bagi diri sendiri dan orang lain?

Lalu apakah maksudnya DIY itu ga aman buat kita?

Jawabannya TERGANTUNG.

Yes, tergantung dari seberapa dalam kita mempelajari sesuatu sehingga yakin bahwa kita mampu membuat produk yang aman; juga bagaimana cara menggunakannya secara benar (misalnya ketika digunakan pada kulit dan tubuh kita). Hal lain yang tidak kalah penting adalah seberapa jauh kita mau menerima risiko yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan produk DIY tersebut.

credit: freepik.com

Dalam pembuatan skincare misalnya, Kenapa demikian?

Pada skincare misalnya, DIY menjadi aman KETIKA teknik dan formulasinya BENAR. Satu hal yang HARUS diingat, membuat skincare itu tidak sembarangan. Kita tidak hanya perlu tahu tentang bahan yang kita gunakan, tetapi juga bagaimana setiap bahan tersebut berinteraksi satu sama lain, efeknya ketika digunakan pada tubuh, bagaimana supaya produk bisa awet dan tidak menjadi tempat tumbuhnya bakteri atau mikroorganisme. Belum lagi faktor lainnya. Bahkan para formulator yang kredibel biasanya belajar khusus untuk memperdalam dunia perskincare-an ini. Kenapa? Tentu supaya produk yang dibuat DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN. Satu bahan yang enggak kenapa-kenapa di tubuh orang lain, bisa jadi bermasalah di tubuh orang yang berbeda.

Nggak mau dong ya jadi kelinci percobaan produk DIY yang kita buat? Disinilah poin seberapa jauh kita bersedia menerima risiko dari penggunaan produk DIY.

credit: freepik.com

Contoh lainnya, essential oil (EO) kerap kali digunakan dalam resep DIY membuat produk perawatan kulit dan wajah. Sayangnya sebagian resep yang TIDAK mencantumkan takaran atau kadar EO yang dianjurkan dalam produk yang akan dibuat (atau % EO yang diperbolehkan). Padahal EO tidak bisa dipergunakan sembarangan. Selain karena konsentrasinya yang sangat pekat, setiap EO juga memiliki karakteristik dan cara pemakaian yang berbeda-beda. Jika salah digunakan, EO bisa menimbulkan dampak yang kurang baik bagi tubuh kita, misalnya iritasi atau alergi.

credit: sustaination.id

Risiko lain yang kerap kali muncul adalah ketiadaan pengawet (preservative) dalam produk DIY, sehingga rawan menjadi sarang mikroba dan bakteri. Hal-hal seperti ini cukup berisiko sehingga memerlukan pengetahuan lebih lanjut. Pembuatan ecoenzyme sebagai pembersih pun masih memiliki pro dan kontranya tersendiri. Jadi, semuanya tentu dikembalikan lagi pada kita apakah bersedia menerima risiko tersebut?

Terus, solusinya apa dong?

  1. Cobalah berpikir kritis. Jangan langsung percaya dengan resep DIY yang ada di internet. Pelajarilah lebih lanjut terkait bahan-bahan yang digunakan.
  2. Bertanya pada ahlinya. Kita bisa bertanya pada teman atau orang yang lebih paham dan kredibel, bisa juga lewat komunitas terkait yang diikuti.
  3. Ikuti workshop yang terpercaya
  4. Berani mencoba artinya berani menanggung risiko yang mungkin ditimbulkan.

Membuat sendiri barang atau produk yang kita gunakan (DIY), tentu adalah hal yang baik. Namun, jangan lupa untuk memperhatikan detail lainnya seperti, apa tujuan melakukan DIY? Apakah DIY itu aman? Apakah sudah bertanya pada orang yang lebih paham? Lalu apakah siap menanggung risiko yang mungkin ditimbulkan?

Jangan karena ingin natural ataupun minim sampah, kita lalu iseng campur ini itu tanpa basic pengetahuan yang cukup. Bisa jadi hasil produknya tidak sesuai tujuannya. Misal, DIY shampoo bar malah jadi sabun. Bukannya bersih, bisa jadi rambut kita jadi kaku dan ketombean karena pH sabun dan shampoo jelas berbeda. Belum lagi, tubuh setiap orang juga berbeda, kadang cocok-cocokan. Nggak enak kan kalo pas dapet apesnya?


Kalau menurut kalian gimana? Atau ada punya pengalaman kurang enak terkait DIY ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *