Dibalik Mudahnya Hidup dengan Plastik

Ribet banget sih bawa tas sendiri? Ribet banget sih bawa botol sendiri? Mendingan pakai tas plastik dan beli air mineral di toko, praktis, ngga perlu nyuci, ngga berat bawanya.

Normalnya, sebagian besar orang akan berpikir demikian. Plastik telah memberikan kehidupan yang sangat praktis. Terutama untuk kita yang selalu beraktivitas diluar rumah sepanjang hari.

Tapi, yang perlu kita pikirkan ulang sebenarnya adalah berapa harga yang harus dibayar dari kepraktisan hidup yang diberikan oleh plastik? dan apakah benar membawa tas dan botol minum sendiri lebih ribet daripada menggunakan plastik sekali pakai?

Mungkin, untuk menjawab kegelisahan ini, kita perlu mengetahui bagaimana perjalanan plastik hingga sampai ke tangan kita. Dari mulai proses ekstrasi bahan baku, proses produksi, distribusi hingga akhirnya sampai di tangan kita.

Proses Produksi Plastik

Perjalanan plastik hingga sampai ditangan kita melibatkan proses yang rumit dan panjang. Yuk kita intip bagaimana prosesnya!

Ekstrasi Bahan Baku

Proses pembuatan plastik bermula dari ekstrasi minyak bumi sebagai bahan baku utama proses pembuatan plastik. Lho kok minyak bumi? Yes, plastik yang biasa kita gunakan saat ini masih dibuat dengan menggunakan minyak bumi, sumber daya alam yang akan habis dan tidak dapat diperbarui. Proses ekstrasi ini melibatkan energi yang sangat besar dan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

zhengzaishuru/iStock

Transportasi dan Produksi Nafta

Proses ekstraksi minyak bumi tak jarang berada jauh dari tempat pemrosesan lebih lanjut. Minyak bumi dikirim dari wilayah ekstrasi dengan menggunakan kapal laut, pipa, atau melalui lajur darat. Proses pengiriman minyak bumi ini bisa menyebabkan tumpahan minyak bumi di lautan dan sangat berbahaya bagi lingkungan lho!

Setelah minyak bumi berhasil dikirim, minyak bumi mentah diproses lebih lanjut yaitu proses pemisahan berbagai macam senyawa dari minyak bumi, seperti bensin, kerosin , diesel, gas dll. Salah satu senyawa yang dihasilkan dari proses pemisahan ini adalah senyawa Nafta yang merupakan bahan baku pembuatan berbagai jenis plastik yang kita gunakan sehari-hari.

Proses pemisahan minyak bumi hingga menghasilkan senyawa Nafta. source: plasticisrubbish.com

Proses Pembuatan Pelet Plastik

Setelah mendapatkan Nafta, senyawa Nafta ini kemudian diproses lebih lanjut untuk menjadi pelet plastik atau biasa disebut dengan nurdles. Di Indonesia, proses produksi nurdles atau pelet plastik ini dilakukan oleh perusahaan PT Chandra Asri Petrochemical dengan mengimpor bahan baku Nafta dari India, Thailand, atau China.

Yup, jadi bahan baku plastik yang kita gunakan di Indonesia ini ternyata masih IMPOR lho!

Nurdles atau pelet plastik. Source: https://www.intelligentliving.co/nurdles/

Transportasi dan Pencetakan Plastik

Setelah proses produksi nurdles atau pelet plastik ini selesai, nurdles didistribusikan ke pabrik produksi plastik untuk dicetak dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan, misalnya menjadi botol plastik, tas plastik, dan lain sebagainya.

Tidak banyak yang mengira bahwa saat proses distribusi, terdapat kemungkinan nurdles plastik ini terlepas dan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Proses transportasi nurdles berpotensi merusak lingkungan. Source: https://www.nurdlehunt.org.uk

Setelah pelet plastik sampai di pabrik produksi, pelet plastik dilelehkan dengan suhu tinggi dan dicetak sesuai dengan kebutuhan atau rekues para pembeli.

Proses pencetakan plastik dari pelet menjadi botol plastik. Source: pinterest.com

Sampai disini. perjalanan plastik bisa dilanjutkan untuk didistribusikan ke para pembeli plastik dan akhirnya akan sampai ke tangan kita, atau bisa dilanjutkan ke pabrik lain untuk proses selanjutnya, misalnya ke pabrik air mineral atau minuman dalam kemasan plastik lainnya.


Akhirnya, kita sekarang jadi mengerti keseluruhan proses produksi plastik dari mulai ekstraksi bahan baku hingga bagaimana perjalanan plastik ini sampai ke tangan kita. Ternyata, perjalanan plastik ini sangat panjang dan rumit ya! Dan tentunya, proses produksi plastik ini memakan sangat banyak energi sehingga menghasilkan jejak karbon yang sangat besar. Dalam skala dunia, penelitian menunjukkan bahwa plastik menghasilkan jejak karbon sebesar 1.800 Ton CO2 dan 60% dari emisi ini dihasilkan saat proses produksi saja lho!

Dari sini, kita dapat simpulkan bahwa persoalan tentang plastik tidak berhenti pada pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh material plastik yang susah terurai dan proses pembuangan yang mencemari lingkungan, tetapi juga keseluruhan proses produksi yang menghasilkan jejak karbon yang besar juga memberikan dampak buruk terhadap bumi kita.

Setelah proses yang panjang dan dampak buruk yang diakibatkan oleh proses produksi plastik, at the end, plastik hanya digunakan dalam hitungan menit, kemudian dibuang dan mencemari lingkungan. What a mindblown fact, don’t you think?

Jadi gimana menurut kalian? Lebih ribet bawa tas belanja dan botol minum sendiri, atau memakai plastik sekali pakai nih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *