Pencemaran Lingkungan dan Dampaknya pada Makhluk Hidup

Mendengar atau membaca tentang kepunahan hewan karena diburu mungkin bukan hal baru lagi. Sejarah telah menceritakan banyak tentang ratusan hewan yang habis spesiesnya karena terus diburu baik itu secara langsung atau melalui makanannya. Tapi kalau hewan yang punah karena adanya pencemaran lingkungan, pernahkah Kamu dengar? Karena faktanya, Ada!

Satwa Punah Karena Pencemaran Lingkungan

Mungkin kita tak banyak yang tahu bahwa dulunya ada spesies lumba-lumba tawar yang disebut Baiji. Mereka banyak ditemukan terutama di sungai-sungai di Negara China. Sensitivitasnya dalam mengeluarkan bunyi dan menangkap pantulannya sangat tajam, sehingga mampu mendeteksi keberadaan ikan lain. Tapi dengan seiring bertambah padatnya lalu lintas kapal di sungai, yang pada akhirnya menjadi polusi suara, membuat mereka tak lagi mampu bertahan dan dinyatakan punah pada tahun 2006.

pencemaran lingkungan
sumber: en.wikipedia.org

Bernasib hampir sama dengan lumba-lumba Baiji, Kerang Pigtoe Alabama juga tidak lagi mampu bertahan dan pada akhirnya dinyatakan punah pada tahun yang sama. Sebenarnya spesies ini hidup dengan menyaring air sungai yang kotor. Tapi karena tingkat pencemaran sungai oleh bahan kimia dari limbah pabrik sudah terlalu tinggi, mereka tidak lagi mampu bertahan.

pencemaran lingkungan
sumber: sains.kompas.com

Hal itu juga bisa saja dialami oleh satwa Indonesia dengan tingkat polusi yang memburuk dari tahun ke tahun. Salah satunya di lautan, jutaan ton sampah yang dibuang ke laut sering mengganggu kehidupan hewan air. Banyak dari mereka yang terjebak dalam sampah plastik dan bahkan meninggal karena memakannya. Seperti pada tahun 2018, ditemukan paus yang mati terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan 6 kilogram sampah plastik di perutnya. Jika hal ini terus berlanjut, akan semakin banyak hidup satwa laut yang terancam. 

Lalu, Apa Hubungannya dengan Manusia?

Pencemaran Lingkungan saat ini sudah pada tingkatan yang sangat memprihatinkan. Para ilmuan yang ingin menganalisa kondisi atau zat tertentu, sering kali melakukan penujian terlebih dulu kepada hewan. Jika tubuh mereka merespon dengan buruk, hal itu akan dianggap memiliki potensi buruk juga terhadap manusia. Misalnya seperti burung kenari yang dibawa ke tambang batu bara, untuk mengidentifikasi tingkat racun dalam udara akibat pencemaran lingkungan. Sehingga hal itu nantinya bisa diantisipasi terlebih dulu oleh para penambang.

Manusia sadar bahwa sebenarnya mereka bisa sakit atau bahkan mati ketika terpapar oleh lingkungan yang tercemar atau beracun. Bahwa tingkat polusi yang semakin buruk juga akan berdampak pada kualitas hidup manusia. Salah satu contoh riil, warga Jakarta yang banyak kesulitan untuk mendapatkan air bersih karena mayoritas sungai sudah tercemar pada level akut, sehingga tak bisa diolah lagi airnya.

Bukan tak mungkin jika hal itu terus memburuk tanpa upaya pencegahan atau antisipasi, air bersih akan benar-benar habis untuk manusia bertahan hidup. Mungkin berpikir air laut masih banyak, tapi pada kenyataannya laut pun juga tak terhindarkan dari pencemaran. Jutaan ton sampah dibuang atau hanyut ke laut, yang bahkan diprediksi oleh ilmuan pada tahun 2050, jumlahnya akan lebih banyak dari jumlah ikan. Bayangkan betapa tercemarnya laut pada saat itu!

Lalu Bagaimana Solusi Pencemaran Lingkungan?

Kunci dari masalah ini tentu berada pada pola konsumerisme masyarakat. Pola konsumsi masyarakat lebih suka membeli produk-produk sekali pakai, yang pada akhirnya hanya menumpuk sampah lebih banyak. Masalah ini tidak akan ada jika manusia lebih bijak dalam memilih produk, dengan membeli produk pakai ulang yang minim produksi sampah, serta organik yang minim polusi berbahaya.

Kita perlu fokus pada circular ekonomi yang berkelanjutan, dengan empat prinsip (Reduce, Reuse, Repair, Recycle). Mengurangi tingkat komsumsi yang tidak perlu, menggunakan produk-produk pakai ulang, berusaha memperbaiki terlebih dulu sebelum membuang dan saat membuang memilah terlebih dulu dan mendaur ulang sampah yang memungkinkan. Berikut beberapa contoh langkah riil yang bisa dilakukan:

1.       Pemerintah

  • Membuat regulasi yang tegas tentang pengelolaan limbah dan sampah
  • Memfasilitasi program zero waste dan pengelolaan sampah
  • Menggalakkan dan memfasilitasi gerakan penyelamatan lingkungan tercemar, misal: bersih-bersih pantai dan laut

2.       Industri

  • Membuat sistem produksi yang lebih efisien bahan baku dan energi
  • Menggunakan kembali sisa-sisa atau produk gagal untuk produksi selanjutnya atau fungsi lain
  • Mengolah limbah organik menjadi kompos
  • Menetralisir atau mengolah limbah berbahan kimia sebelum dibuang ke lingkungan

baca lebih banyak tentang industri ramah lingkungan di Zero Waste dari Hulu ke Hilir? Ini Penjelasan Selengkapnya!

3.       Personal

  • Mengolah sampah organik menjadi kompos di rumah
  • Mengirimkan sampah anorganik dan B3 ke pengelola sampah, misal: Jasa Pilah dan Jemput Sampah Waste4change
  • Menggunakan produk-produk organik dan ramah lingkungan (sabun, detergen, skin care, dll)
  • Meminimalisasi penggunaan plastik sekali pakai

Tak semua kerusakan di lingkungan bisa sembuh dengan sendirinya. Kebanyakan justru semakin memburuk sebelum sempat menyembuhkan diri, yang pada akhirnya mengakhiri kesempatan hidup spesies lain. Bukan hanya hewan yang membutuhkan lingkungan sehat, kita sebagai manusia juga tak akan bisa hidup tanpanya.

Yuk, mulai sadari setiap konsumsi yang kita lakukan dan kelola sampah dengan sebijak mungkin!

Leave a Reply

Your email address will not be published.