Insinerator sebagai solusi untuk masalah sampah Indonesia, tepatkah?

5 Desember kemarin, ramai pemberitaan bahwa Provinsi Jawa Barat akan menyebar insinerator di 50 titik di sekitar DAS Citarum tahun depan. Mengutip dari website DLH Jawa Barat:

“Insinerator merupakan alat pembakar sampah yang dioperasikan menggunakan teknologi pembakaran dengan suhu tertentu. Alat ini bisa membakar sampah sampai habis.”

kata-kata habis disini perlu kita luruskan. Benarkah sampah yang dibakar dengan menggunakan insinerator ini habis? atau berubah menjadi bentuk lain, tak kasat mata, dan jauh lebih berbahaya?

Lalu timbul pertanyaan lain, benarkan insinerator ini solusi yang tepat bagi permasalahan sampah di Indonesia? bukankah ramah lingkungan? apalagi waste to energy. Bagus sekali bukan dari sampah menjadi listrik?  Belum tentu juga. Yuk kita coba belajar lebih lanjut tentang insinerator ini.

Tentang Insinerator

Beberapa diantara kalian mungkin belum tau apa itu Insinerator. Insinerator adalah teknologi pengolahan sampah dengan cara dibakardengan suhu tinggi minimal 1000 derajat celcius. Hasil pembakaran ini menciptakan residu atau produk sisa berupa debu beracun atau toxicash, flue gas (CO2, H2O). 

Mitos di balik ‘solusi’ Insinerator atau PLTSa ramah lingkungan

#1 Mitos: Incenerator tidak menghasilkan polusi dan emisi berbahaya ke udara dan lingkungan sekitar

Fakta: Segala jenis insinerator, gasifikasi, pyrolisis tetap akan menghasilkan produk residu beracun yang berpotensi mencemari lingkungan dan kesehatan manusia

Beberapa berita mengklaim bahwa insinerator dengan menggunakan teknologi plasma dapat membakar sampah tanpa menghasilkan gas beracun dan aman bagi lingkungan. Mungkin memang benar, bahwa teknologi ini bisa mennetralkan gas beracun.

Dikutip dari Kompas.com:“Kan cuma masalah asap, kenapa kita tidak selesaikan?. Jadi jangan sampai ini (insinerator) ditolak. Karena di negara maju ini jadi motor penggerak (mengatasi sampah). Jadi kita tawarkan green insinerator ini,” ujar Anto.

Tapi bagaimana dengan air buangan dan toxicash atau debu yang dihasilkan dari teknologi ini? no one ever talks about it.

Segala jenis insenerator,gasifikasi, pirolisis tetap akan menghasilkan produk residu beracun. Artinya, sampah yang dibakar tidak akan ernah habis  atau hilang. Teknologi pembersih pada insinerator hanya akan mengubah bentuk polutan gas beracun menjadi bentuk lain seperti kedalam ash, boiler slag, waste water dll yang akhirnya akan dilepas ke lingkungan, seperti ke sungai atau ke TPA B3 (2). Polutan ini mengandung racun berbahaya seperti dioxin, furan, dan logam berat lain seperti merkuri, lead, acid. Polutan ini bisa tidak terlihat mata karena sangat kecil hingga berukuran nano (10-9 m). Insenerator dengan teknologi pengontrol polusi paling canggih yang ada saat ini pun tidak bisa menangkap partikel nano ini. Polutan ini bisa masuk ke dalam paru-paru, aliran darah manusia, hewan ternak, dan tumbuhan yang tumbuh di sekitar insenerator. Polutan ini menyebabkan resiko seperti kanker, penyakit jantung, asma, strokes, cacat fisik dan mental pada janin (3).

Baca juga dampak insernator pada kesehatan pada laporan WHO disini.

#2 Mitos: Insinerator dan waste to energy system itu ramah lingkungan

Fakta: Insinerator dan waste to energy system menghasilkan emisi rumah kaca lebih tinggi dari pada pembakaran batu bara

Insenerator menghasilkan lebih banyak CO2 per unit listrik daripada Pembangkit Listrik dari batu bara. 

Berdasarkan EPA, insenerator “waste to energy” menghasilkan gas emisi rumah kaca lebih tinggi dari pada mencegah, memakai kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle) material yang sama (4). Sebaliknya, 42% emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat dapat berkurang dengan strategi minim sampah atau zero waste seperti source reduction, recycling, dan composting (5)

#3 Mitos: Insinerator dan PLTSa ramah lingkungan termasuk dalam energi terbarukan

Fakta: Inisinerator dan waste to energy system is a monster

Okay, first of all, sebagai lulusan master di bidang energi terbarukan saya agak tersinggung mendengar pernyataan ini. RENEW-able. Tahu kan artinya apa? Kalau dibahasa Indonesiakan renewable ini artinya dapat diperbaruhi. Kalau kita menggolongkan PLTSa dengan teknologi insinerator dan teman2 sejenisnya ke dalam energi terbarukan, ini artinya kita mengharapkan untuk selalu ada banyak sampah.

Begini analogi sederhananya. Jika kamu seorang investor insenerator yang menginvestasikan uang sejumlah 12 Milyar Rupiah untuk insenerator waste to energy atau PLTSa dengan kapasitas 1 MWp, kamu pasti mengharapkan mendapatkan sumber sampah untuk memproduksi seusai dengan kapasitas maksimal PLTSa-mu bukan? dengan kata lain, kamu pastinya tidak ingin sampah ini berkurang. Karena jika sampah semakin berkurang, PLTSamu akan beroperasi dibawah kapasitas, dan pastinya tidak lagi menguntungkan. So, The more waste the better.

Do you like more waste? I don’t.

#4 Mitos: Insinerator atau PLTSa menghasilkan listrik secara efektif

Fakta: Waste to energy is a waste OF energy

Menurut DLH, sampah di Indonesia hampir 70% adalah sampah organik dan basah (6). Artinya, sangat tidak efektif jika sampah rumah tangga kita diproses dengan metode pembakaran. Hal ini dikarenakan sampah basah memiliki nilai kalori yang rendah sehingga menghailkan energi yang juga sangat rendah. Incenerator biasa memiliki efisiensi 19-27% untuk menghasilkan listrik (7). Selain itu, incenerator juga mendorong masyarakat untuk meninggalkan budaya memilah sampah dari rumah. Akibatnya, banyak material yang sebetulnya bernilai ekonomis dan bisa di daur ulang berakhir di pembakaran saja. It’s such a waste of energy.

Laporan dari ICF consulting (2015) menyebutkan bahwa daur ulang plastik PET menghemat energi sebesar 26 kali dibanding dengan membakarnya saja. Begitu juga dengan jenis sampah yang lain, akan jauh lebih menghemat energi dengan memilah dan mendur ulang dari pada membakar.

#5 Mitos: Membangun insenerator atau PLTSa mendukung terciptanya lapangan kerja baru

Fakta: Pembangunan insinerator dan PLTSa menghambat inovasi. Sedangkan, industri pemilahan dan daur ulang dapat menghadirkan 10-20 kali lipat pekerjaan daripada insenerator / PLTSa

Insinerator membutuhkan investasi yang sangat besar, namun hanya menghasilkan lapangan pekerjaan yang sedikit sekali jika dibandingkan dengan mendaur ulang dan mengkompos. Dengan recycling rate kurang dari 33%, industri daur ulang di Amerika Serikat menciptakan lebih dari 800.000 pekerjaan (8).

Satu insinerator yang terkenal di Itali ada di kota Brescia. Insinerator ini dibangun seharga $400 juta dan mendapatkan subsidi $600 juta. Dengan investasi sebesar itu, insinerator ini hanya menciptakan 80 pekerjaan!! Yes, 1 billion USD untuk 80 pekerjaan! (9)

#6 Mitos: Insinerator atau PLTSa adalah solusi pengelolaan sampah yang murah

Fakta: Incenerator merupakan investasi pengolahan sampah yang mahal sekali

Pengolahan sampah dengan insinerator waste to energy atau PLTSa 50 lebih tinggi daripada metode TPA (10). Di Amerika serikat, biaya ini dikenal dengan istislah tipping fee yaitu biaya yang dibayarkan oleh si pemilik sampah kepada pemilik fasilitas pengolahan sampah. Tipping fee bisa juga diberikan kepada pengelola kompos dan pemilik industri daur ulang, seperti bank sampah. Tapi biasanya di bank sampah, tipping fee dibayarkan dari si pengelola kepada si pemilik sampah.

Selain itu, jika dibandingkan dengan teknologi pembangkit listrik lainnya, Insinerator atau PLTSa juga merupakan teknologi yang paling mahal. Berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA), membangun dan mengoperasikan insenerator waste to energy lebih mahal daripada pembangkit listrik lainnya, seperti angin, matahari, gas, batu bara, bahkan nuklir (11).

#7 Mitos: Insineratos menyelesaikan masalah sampah di Indonesia

Fakta: Insinerator hanya akan menciptakan masalah baru dan lingkaran setan pada permasalahan sampah di Indonesia

Jika dilihat sekilas, insinerator memang terkesan ‘menjanjikan’ karena dapat ‘menghilangkan’ sampah dari pandangan kita. Tapi, seperti yang saya tuliskan diatas, sampah yang dibakar melalui insinerator tidak akan pernah benar-benar habis atau hilang, tapi akan menjadi polutan bentuk lain yang tak kasat mata dengan ukuran nano yang berbahaya bagi kita dan juga masa depan anak-cucu kita.

Pembangunan insinerator atau PLTSa akan membuat budaya malas memilah sampah yang memang sudah ada pada masyarakat indonesia saat ini. Insinerator akan merugikan industri-industri pengolahaan sampah lokal yang ada di daerah, seperti bank sampah. Insinerator membuat perusahaan malas berinovasi kearah kemasan dan produk yang mendukung sistem ekonomi sirkular. All in all, insinerator hanya akan membawa Indonesia kepada lebih banyak sampah.


Tapi lihat dong, negara maju semua pakai insinerator!

Sering kali saat kita membahas insinerator, kita membandingkan dengan swedia, Denmark, dan jepang yang juga memakai insinerator. Perlu kita lihat kenbali, apakah swedia dan jepang sudah memilah sampah dengan baik? Sudah.

Apakah indonesia sudah memilah sampah dengan baik? Belum. Oke berarti argumen negara maju akai insinerator tidaklah valid atau tidak cocok dengan kondisi di Indonesia.

Lho, tapi itu swedia impor sampah! Hebat kan?

Swedia impor sampah simply karena mereka memiliki inisinerator tapi tidak memilki sampah. Kenapa? Karena mereka sudah memilah dengan baik sehingga mereka kekurangan sampah. They have a monster to be kept. Kok mereka tidak protes?

Laporan kesehatan terbaru di EU menyatakan bahwa insinerator modern adalah penyebab utama ultra-fine emission (12). Di tahun 2009, Advertising Standards Agency di Inggris melarang the SITA Cornwall waste company untuk mendistribusikan booklet tentang insinerator (13).

Lalu Apa Solusi yang Tepat?

Permasalahan sampah bukanlah masalah yang mudah. Dibutuhkan seluruh dukungan dari berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah sampah ini. Mungkin akan butuh beberapa waktu untuk akhirnya bisa berjalan dengan sesuai harapan. Tapi dalma jangka panjang, tentu akan sangat baik sekali

Masih ingat dulu kita naik motor tidak perlu pakai helm SNI? Butuh sekitar 2 tahun dengan penegakkan hukum yang tegas untuk akhirnya kita bisa terbiasa pergi naik motor dengan helm SNI.

Berikut ini solusi yang lebih berkelanjutan untuk permasalahan sampah di Indonesia

Pemerintah

  1. Penegakkan aturan persampahan UU NO.18 TAHUN 2008 tentang Pengelolaan Sampah secara tegas
  2. Peraturan untuk mengurangi sampah, misalnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, seperti tas plastik di pasar, toko, supermarket
  3. Peraturan untuk para perusahaan agar bertanggung jawab pada sampahnya dan berinovasi pada kemasan yang mendukung ekonomi sirkular
  4. Edukasi masyarakat untuk memilah, mengolah sampah dirumah nekerja sama dengan sekolah, RT/RW/Desa dan juga bank sampah lokal
  5. Pembangunan kompos komunal, bank sampah, di setiap desa RT/RW/Desa

Masyarakat Indonesia

  1. Mencegah sampah dengan menhindari produk-produk sampah dengan emasan yang tidak dapat didaur ulang
  2. Memilah sampah sesuai jenisnya dan menyerahkan ke bank sampah
  3. Mengompos di rumah

Industri

  1. Bertanggung jawab atas sampah kemasan
  2. Berinovasi untuk menciptakan produk dengan kemasan yang mendukung sistem ekonomi sirkular

Jadi gimana? are you agree or disagree?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *