Sustainable living: Cara Bijak Menggunakan Air

Zero waste living atau gaya hidup minim sampah bukan hanya tentang plastik. Lebih dari itu, hidup minim sampah bagi saya adalah hidup secara sadar dan lebih bijak dalam menggunakan ‘resources’ atau sumber daya yang ada, terutama yang akan habis. Plastik adalah salah satu contoh kecil yang wajib kita hargai keberadaannya dan kita kurangi penggunaannya.

Salah satu sumber daya yang sering sekali luput dari perhatian kita adalah Air Bersih. Kebanyakan dari kita, yang hidup di kota besar, mungkin tidak pernah mengalami masalah krisis atau kekurangan air. Malahan, sering kali kita menggunakan air bersih secara berlebihan seakan-akan air bersih itu merupakan sumber daya yang tidak pernah habis. Benarkah seperti itu?

Pernahkah kita berpikir bagaimana akses air saudara-saudara kita di desa dan pulau-pulau sebelah timur Indonesia? Nyatanya, setiap tahun, sebanyak 150,000 anak Indonesia meninggal sebelum usia 5 tahun karena kurangnya akses air bersih. The Indonesia Basic Health Survey Riskesdas 2007 melaporkan diare sebagai penyebab 31 persen kematian antara usia 1 bulan sampai satu tahun, dan 25 persen kematian antara usia tua 1-4 tahun. Hal ini disebabkan karena masih banyak penduduk Indonesia yang mengalami kesulitan untuk mengakses sumber air bersih, terutama di daerah pedesaan [1]. UNICEF dan WHO memperkirakan Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang sulit mengakses sumber air minum. Sebanyak 39 juta orang di Indonesia masih mengalami kesulitan untuk mengakses air minum. 1 dari 6 anak dan 1 dari 8 keluarga di Indonesia tidak memilki akses ke air minum yang aman [2]. Survey yang dilakukan oleh UNICEF dan Pemerintah Yogyakarta di tahun 2015 menunjukkan bahwa Yogyakarta memiliki masalah dengan kualitas air minum. 2 dari 3 sampel air minum yang diambil telah terkontaminasi oleh bakteri penyebab diare [3].

 Lalu coba kita cek kembali bagaimana kondisi sumber daya air atau cadangan air bersih di Jakarta. Menurut PT PAM Jaya, Kebutuhan air bersih di Jakarta pada tahun 2015 adalah sekitar 29,400 liter per detik. Dari jumlah ini, hanya sekita 60 persen yang dapat dipenuhi oleh PT PAM Jaya dan menyisakan defisit air hingga 10.000 liter per detik. Keadaan ini diperburuk dengan kondisi pemenuhan defisit air bersih melalui penyedotan air tanah atau melalui sumur tanah yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jakarta [4].

Dampak penggunaan air tanah berlebihan di Jakarta sangat buruk bagi lingkungan, terutama bagi masyarakat Jakarta itu sendiri. Menurut Kepala Badan Geologi R Sukhyar, kondisi cekungan air tanah Jakarta saat ini memasuki zona kritis hingga rusak akibat eksploitasi air tanah di atas ambang batas normal yang direkomendasikan, yaitu 20 persen. Faktanya, hingga sekarang eksploitasi air tanah sudah mencapai 40 persen [4]. Eksploitasi air tanah yang berlebihan dapat menyebabkan:

  1. Penurunan tanah Jakarta. Saat ini penurunan tanah di Jakarta mencapai dua hingga delapan centi meter per tahun. Sebanyak 40% wilayah jakarta saat ini telah berada dibawah air laut [5].
  2. Banjir air laut atau banjir rob dimana hal ini terjadi saat laut pasang. Banjir rob ini disebabkan oleh permukaan tanah Jakarta yang lebih rendah dari air laut sehingga saat air pasang, air laut dengan mudah mengalir ke daratan, kita bisa menjumpai hal ini di daerah Pluit
  3. Air tanah menjadi payau atau asin dikarenakan air laut yang merembes ke kantong cadangan air tanah

Yuk Hemat Air, Bagaimana caranya?

  1. Tampung dan gunakan kembali air hujan, cucian beras /sayur dan buah, atau air tampungan AC untuk berbagai hal: menyiram tanaman, menyiram kompos, membuat Eco-Enzyme
  2. JIka memungkinkan, beralih gunakan shower daripada menggunakan bathup atau bak penampungan dengan gayung. Mandi dengan shower bisa menghemat pemakaian air hingga 60%
  3. Matikan keran air! saat mencuci piring, menggosok gigi, mencuci tangan, menggunakan sabun dan saat keramas
  4. Cek rutin dan perbaiki keran yang bocor. 1 keran bocor bisa membuang air sebanyak 75 lilter per hari.
  5. Gunakan deterjen ramah lingkungan. Penggunaan banyak deterjen akan diikuti dengan kebutuhan air yang lebih banyak untuk membilas

yuk kita mulai perbaiki perilaku kita terhadap sumber daya air hari ini. Kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi? anak-cucu kita juga berhak atas akses air bersih kan? #hematair#sustainableliving#bijakgunakanair#carahematair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *