Hidup Berkesadaran: Mengingat Kembali Kearifan Lokal

Sejak kecil saya terbiasa berada di alam terbuka. Sawah, kebun, dan lapangan luas adalah taman bermain saya. Setidaknya sampai saya SMP di pertengahan tahun 2000an. Segera setelahnya, banyak hal telah berubah. Kota kecil saya semakin mantap menjadi kota industri. Ribuan hektar sawah (mungkin lebih) telah berubah menjadi deretan perumahan, ruko, pabrik dan kompleks mall. Termasuk lahan luas di dekat rumah saya. Perubahan lingkungan fisik tersebut agaknya juga mengubah kehidupan banyak orang, termasuk saya, sedikit demi sedikit.

Foto oleh Utsman Media on Unsplash

Menurut hipotesis biophilia, manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk bersatu dengan alam. Namun, seiring dengan arus modernisasi, pembangunan infrastruktur dan perkembangan teknologi, berbagai hal mulai menggantikan relasi dekat antara manusia dengan alam. Gadget menggantikan lahan terbuka dimana anak-anak bisa memainkan permainan tradisional bersama anak lainnya. Apakah yang hilang hanya kesempatan bermain? Tentu tidak. Kesempatan berinteraksi dan belajar nilai-nilai kehidupan juga hilang. Sesederhana belajar memulai hubungan dan bekerja sama dengan orang lain, sabar menunggu giliran, atau menerima bahwa ada teman yang lebih mahir memainkan sesuatu.

Bukan hanya itu. Puluhan tahun lalu, orang-orang juga jauh lebih ramah pada alam. Sesimpel membungkus makanan pun, masih lazim menggunakan daun. Bawa rantang atau mangkuk sendiri ketika beli makanan juga masih biasa dilakukan. Termasuk bawa keranjang saat berbelanja. Waktu saya SD, lahan di sekitar masih mampu menghasilkan makanan sehari-hari, mulai dari singkong, ubi, dan sayur-sayuran. Ternak juga sama. Masih banyak orang yang memelihara ayam sendiri, meskipun tidak dalam jumlah besar. Entah bagaimana, hidup rasanya terasa lebih natural dan dekat dengan alam.

Mungkin hal tersebut masih terasa di daerah. Di kampung kakek saya di Jogja, pakai besek dan daun pisang untuk kenduri, lalu pakai kain pembungkus besek untuk diantarkan ke tetangga, juga masih lazim dilakukan sampai saat ini. Meskipun daun-daun itu perlahan mulai tergantikan dengan plastik dengan alasan kepraktisan. Sedih memang. Di daerah perkotaan, besek dan daun pisang tentu lebih jarang ditemui. Wajar. Karena ketersediaan lahan untuk menyediakan bambu atau daun pisang tentu jauh lebih sedikit.  

sumber: ubudnowandthen.com (foto: Anggara Mahendra )

Perkembangan zaman menuntut kemudahan dan kepraktisan. Dan harga yang harus dibayar untuk hal tersebut juga tidak murah. Sebutlah, plastik menggantikan tas keranjang pakai ulang. Kertas nasi berlapis plastik menggantikan daun pisang. Styrofoam menggantikan rantang pakai ulang. Tisu menggantikan lap kain atau sapu tangan. Menghadirkan segala barang tersebut juga memiliki cost-nya tersendiri, yang salah satunya bisa terlihat dari jejak karbon yang dihasilkan. Hal yang lebih miris lagi, sebagian besar barang tersebut hanya digunakan sekali pakai, lalu dibuang. Penggunaannya tidak sepadan dengan ‘harga’ yang dibayar untuk memproduksi dan mengantarnya ke hadapan kita. Harga yang saya maksudkan, tentu bukan perkara nominal rupiah yang kita bayar. Tetapi ‘harga’ atas dampak lingkungan, kesehatan, bahkan sosial yang ditimbulkannya. Dan, seringkali semua hal tersebut tidak diperhitungkan dalam mematok nominal rupiah untuk mendapat barang tersebut.

Hidup yang berkelanjutan tentu harus berkesadaran. Artinya kita menyadari setiap pilihan yang kita buat, termasuk dampaknya untuk segala hal di sekitar kita, tidak hanya untuk alam, juga untuk orang lain dan makhluk hidup lainnya. Adanya kesadaran tersebut mendorong kita untuk lebih bijak lagi dalam melakukan segala sesuatu. Kita tidak sendirian di bumi ini bukan? Hal inilah yang mestinya kita tiru dari cara hidup kakek-nenek kita dahulu.

Masyarakat Sungai Sebayang di Riau misalnya, tidak sembarangan mengail ikan di sungai. Lubuk Larangan menjadi contoh kearifan lokal masyarakat ketika mengambil ikan di sungai. Ada ritual yang mereka lakukan, juga ada aturan yang harus mereka patuhi, seperti waktu untuk mengambil ikan, berikut jarak/area di mana mereka boleh mengambil ikan. Tujuannya, supaya masyarakat tidak menjarah sungai sesuka hati dan semua orang bisa mendapatkan ikan. Hal ini tentunya mencerminkan perilaku yang berkesadaran dan bertanggungjawab dari sebuah perilaku. Lubuk Larangan mungkin hanya satu contoh kecil diantara banyak kearifan lokal lainnya, yang mulai kita lupakan. Bahkan sesederhana cara berkebun atau menanam dari kakek nenek kita pun cenderung berkelanjutan. Misalnya menggunakan pupuk kandang, penggunaan tanaman tertentu untuk mengusir hama, dan menerapkan sistem rotasi penanaman seperti palawija. Semuanya minim dampak karena dipikirkan terlebih dahulu, sesuai kebutuhan juga mengikuti ritme alam.

Lubuk Larangan di Desa Aur Kuning, Kampar, Riau.
Sumber: Mongabay Indonesia (foto oleh Agustinus Wijayanto)

Tentu, mungkin saja ada hal-hal lain yang kurang sesuai diadaptasi dengan konteks hidup saat ini. Tetapi bukan berarti budaya dan kearifan lokal itu kita lupakan begitu saja. Kita mungkin bisa mulai menengoknya kembali, lalu mengadaptasi hal yang baik untuk disesuaikan dengak kehidupan kita di saat ini. Mengatakan semua ini bukan berarti saya menilai bahwa pembangunan dan perkembangan teknologi adalah hal yang jelek. Tidak sama sekali. Saya berterimakasih untuk berbagai teknologi, perangkat dan infrastruktur yang membantu kehidupan saya menjadi lebih mudah. Tapi yang ingin saya garis bawahi, mungkin ada sesuatu yang hilang seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Seperti saya singgung di awal paragraf artikel ini, awalnya mungkin saya hanya merasakan kehilangan lahan sebagai tempat bermain. Nyatanya, tidak sesederhana itu. Saya kehilangan interaksi saya dengan alam, beserta berbagai kearifan yang dulu rasanya masih sering saya temui dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin hal itu jugalah yang dialami oleh masyarakat kekinian, khususnya di daerah urban yang semakin jauh dari alam terbuka.

Agaknya kita seperti mulai diingatkan kembali bahwa kita sudah lebih jauh dari alam, yang tercermin dari perilaku kita yang abai pada segala hal di sekitar kita. Dampak yang terjadi bukan lagi sekedar angan-angan. Pun tidak perlu menunggu sampai anak cucu kita nanti. SAAT INI kita sudah merasakan berbagai dampak bukan, mulai dari krisis lingkungan hingga kesehatan. Banyak orang mulai beralih ke kehidupan yang alami, yang lebih harmonis lagi dengan alam.

Melihat kembali pada kearifan lokal dan memulai hal kecil dari sana, mungkin dapat menjadi satu langkah awal yang berarti. Seperti yang selalu kami garis bawahi di Sustaination, hidup berkelanjutan yang minim dampak dan berkesadaran bukan berarti sesuatu yang mengawang-ngawang. Bukan berarti kamu tidak boleh punya barang plastik di rumah dan mengganti semua barangmu dengan yang barang compostable. Tidak. Memanfaatkan apa yang sudah kamu miliki dengan sebaik-baiknya, tentu adalah pilihan yang jauh lebih bijak. Hidup berkelanjutan juga tidak berarti kamu harus belanja ke bulkstore supaya belanjanya zero waste. Kamu pun selalu bisa belanja di pasar tradisional tanpa membawa pulang sampah kecuali sisa organik. Kuncinya tentu perencanaan yang baik. Seperti halnya kakek nenek atau buyut kita dahulu melakukan perencanaan yang baik sebelum melakukan sesuatu, juga memikirkan dampak dari apa yang akan dilakukan. Untuk sekedar menyiapkan lahan, menanam pohon, bahkan juga ketika mau menebangnya. Kenapa? Karena alam, beserta makhluk hidup di dalamnya, bukanlah sesuatu yang asing, tetapi merupakan bagian dari dirinya.

Lalu bagaimana dengan kamu? Masih ingat kebiasaan-kebiasaan orang tua, kakek-nenek atau mungkin buyut kita di masa lalu? Adakah diantaranya yang menurutmu relevan untuk mendukung gaya hidup berkelanjutan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *